TUGAS
I
ILMU
BUDAYA DASAR
“Membedah
Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa”
Dosen : Auliya Ar Rahma
Oleh
Nama : Mohamad Agus P
NPM : 16114740
Kelas : 1KA08
SISTEM
INFORMASI
FAKULTAS
ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
MARET
2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
saya panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayat sehingga saya bisa membuat makalah ini dan menyelesaikan makalah ini
tepat waktu.
Tidak lupa juga saya ucapkan
terima kasih kepada dosen Ilmu Budaya Dasar ibu Auliya Ar-Rahma yang telah
membimbing saya dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Dalam makalah ini saya telah
menyelesaikan tugas yaitu “Membedah Buku: 99 Cahaya Di Langit Eropa”, tugas ini
saya buat dalam hal tugas yang telah dosen berikan kepada saya, semoga
bermanfaat bagi semua yang membacanya.
Demikian makalah ini saya buat,
saya sadar makalah ini jauh dari kata
sempurna, untuk itu saya meminta maaf atas kekurangan yang ada didalam makalah
ini, semoga isi dair makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua, dan menambah
wawasan kita.
Depok,
8 Maret 2015
Mohamad
Agus P
16114740
Latar Belakang
Pada
film ini tidak diceritakan latar belakang beberapa karakter bangsa asing yang
ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan fasih seperti; Fatma Pasha & Ayse
(Turki),
Marion Latimer (Perancis), Khan (Pakistan),
Maarja & Stefan.
ISI
COVER BUKU:
IDENTITAS BUKU:
Judul
: 99
Cahaya Di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa)
ISBN
: 978-602-03-0052-8
Penulis
: Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra
Penerbit
: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit
: November 2013
Cetakan
: Keenam,
Januari 2014
Tebal
: 340 halaman
A. Sinopsis Novel
Novel “99 Cahaya
Di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa)” karya dari Hanum
Salsabiela dan Rangga Almahendra memiliki tema menapak jejak islam di Eropa.
Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan kedua penulis selama berada di Eropa.
Hanum dan Rangga tinggal selama 3 tahun di eropa saat rangga mendapat beasiswa
program doktoral di Universitas di Austria. Keduanya berkesempatan menjelajahi
eropa dan menemukan keindahan eropa yang tidak sekadar hanya Menara Eiffel, Tembok
Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau
gondola-gondola di Venezia. Namun, mereka menemukan keindahan lain dari Eropa,
mereka menjelajah sejarah dan menemukan bahwa Islam pernah berjaya di tanah
itu. Eropa dan islam pernah menjadi pasangan serasi. Namun, ketamakan manusia
membuat dinasti itu runtuh. Melalui buku ini, penulis ingin menceritakan
tentang beberapa tempat dimana islam mempunyai kisah yang cukup menarik
didalamnya. Kisah-kisah dari beberapa tempat didalamnya yang bisa membuat
penulis dan pembaca enggan untuk melakukan kesalahan yang sama. Tempat itu
antara lain Wina (austria), Paris (Perancis), Granada dan Cordoba
(andalusia/Spanyol), dan Istanbul (turki).
Selama kursus
itulah hanum berkenalan dengan Fatma, wanita asal Turki yang berhasil menggugah
jiwa kelana hanum untuk menyusuri jejak islam di eropa. Fatma yang notabene
hanya seorang ibu rumah tangga ternyata memiliki wawasan luas tentang sejarah
Islam di eropa. Bukan hanya itu, kebesaran hati seorang fatma yang menerima
cerca dari kalangan non muslim menyadarkan hanum, bahwa Islam seharusnya
dimaknai luar dan dalam. Bukan sekedar casing yang islam, namun jiwa dan
pikiran kaum bar-bar. Sayangnya fatma tiba-tiba menghilang setelah mereka
mengikat janji akan berkelana bersama menapaki jejak islam yang ada di Spanyol,
Perancis, dan Turki yang pernah berjaya pada masanya. Demi memenuhi janji itu
hanum kemudian mulai menjelajah sendiri bersama suami.
Tempat kedua
yang diceritakan penulis adalah Paris, Perancis. Kota ini dikenal City of
lights, yang berarti pusat peradaban Eropa. Di Paris, Hanum bertemu dengan
seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World
Institute Paris. Marion menunjukkan kepada penulis bahwa Eropa adalah pantulan cahaya
kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa
berharganya. Seperti kufic-kufic pada keramik yang berada di musse louvre. Yang
lebih mencengangkan Hanum, pada lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus, hijab yang
dipakai Bunda Maria bertakhtakan kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah. Selain
benda-benda ‘kecil’ didalam musee louvre, Marion juga memberi tahu tentang Voie
Triomphale atau Jalan kemenangan yang dibuat Napoleon Bonaparte, tempat dua
gerbang kemenangan (arc du triomphe) yang sangat megah. menurut Marion, bila
ditarik garis lurus imajiner maka akan menghadap arah kiblat. Mungkin akan
menjadi konspirasi apabila Eropa mengakui Napoleon beragama Islam, tapi
kedekatan beliau dengan Islam tak terbantahkan. Selain itu, Jenderal kepercayaan
Napoleon, Francois Menou mengucapkan Syahadat setelah menaklukan mesir dan
syariat-syariat islam juga menginspirasi Napoleonic Code.
Setelah ke
Paris, mereka selanjutnya menjelajahi Cordoba dan Granada. Dua kota di
andalusia yang menurut beberapa ahli adalah True City of Lights. Cordoba
merupakan ibukota Andalusia dimana peradaban Eropa dimulai. Pada kota ini
berkembang ilmu pengetahuan dan menginspirasi kota-kota lain di Eropa. Pada
masa keemasan itu, Cordoba bukan negara islam seluruhnya, namun toleransi antar
agama menjadi suatu landasan kuat hingga menjadi kota yang sangat dikagumi
sekaligus membuat iri kota- kota lain. di Cordoba terdapat Mezquita, yaitu
masjid besar yang menjadi Kathedral setelah jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan
ratu Isabela. Sementara itu Granada adalah kota terkahir dimana islam takluk di
daratan Eropa. di Granada terdapat benteng megah yang menjelaskan betapa
megahnya Islam di masa keemasan.
Selanjutnya
mereka berkesempatan menjelajahi Istanbul. Istanbul/ kontatinopel adalah saksi
sejarah dimana Islam pernah memiliki masa keemasan. Pada masa itu, luas wilayah
Islam lebih luas dari kerajaan Romawi. Namun, di Turki tidak ditinggalkan
istana yang megah, bukan karena tidak mampu melainkan karena Sultan mereka mencontohkan
kesederhanaan. Sesuatu hal yang mulai dilupakan pemimpin-pemimpin saat ini. Di
Turki juga terdapat Hagia Sophia, bekas gereja besar dan sempat dijadikan
masjid. Namun kini telah dijadikan museum oleh pemerintah Turki.
B. Unsur
Intrinstik Novel
1. Tema
:
- Menapak Jejak Islam di Benua Eropa.
2. Tokoh
:
- Hanum :Protagonis, karena merupakan mempunyai rasa keinginan tahu pada islam yang sangat besar.
- Rangga : Protagonis, karena bersama-sama hanum menjelajahi eropa.
- Fatma : Protagonis, karena dialah yang pertama kali mengajak hanum menyusuri rahasia-rahasia kebesaran islam
di eropa.
- Eyse : Protagonis, karena anak dari Fatma yang selalu menuruti perkataan ibunya.
- Selim : Protagonis, karena membantu Fatma dan menjelaskan segala yang diketahuinya tentang islam di eropa.
- Paul : Antagonis, karena telah menghina kerajaan turki yang pernah berkuasa.
- Imam Hashim : Protagonis, karena menjelaskan tentang islam di daerah Wina.
- Natalie Dewan : Protagonis, karena merupakan agen muslim sejati yang tidak hanya mempromosikan islam bukan hanya
dari mulut tapi dari
- Marion : Protagonis, karena membantu Hanum menjelajahi eropa.
- Gomez : Protagonis, karena mengantar rangga dan hanum ke tempat-tempat sejarah islam di eropa.
- Hasan : Protagonis, karena sudah menjadi agen muslim yang baik di spanyol.
- Sergio : Protagonis, karena menjadi pemandu yang baik dalam menjelaskan.
3.
Alur :
- Novel ini menggunakan alur campuran.
4.
Amanat :
- Jadikanlah sejarah menjadi pelajaran berharga bagi kita khususnya generasi muda islam.
- Jangan pernah untuk berhenti mempelajari bagaimana perkembangan sejarah peradaban islam di Negara Eropa yang sebenarnya sangat membanggakan bagi kita sebagai pemeluknya.
C. Keunggulan dan kelemahan novel
a. Keunggulan Novel
- Kelebihan buku 99 cahaya di langit eropa ini adalah kita sebagai pembaca akan merasakan seolah-olah sedang mengelilingi eropa dengan berbagai model pendeskripsian dari penulis yang menghadirkan gambaran Eropa kedalam imajinasi kita.
- Mengajak kita untuk mengamalkan Islam secara total melalui perilaku yang mencerminkan Islam, lewat contoh tokoh yang bernama Fatma.
- Cerita yang disampaikan begitu santai dengan bahasa yang lugas dan sederhana sehingga seakan mengajak pembaca turut serta dalam perjalanan spiritual yang dilakukan.
- Buku ini hingga lembar terakhir menguatkan kita sebagai seorang muslim bahwa : di belahan bumi manapun, menegakkan aqidah keislaman kita, berarti kita bersiap untuk menjadi “agen muslim sejati” yaitu sebagai muslim yang membawa rahmat bagi sekelilingnya, rahmatan lil alamin & kebangkitan peradaban Islam adalah saat umat Islam kembali pada Al-Qur’an yang tidak sekedar dibaca, tetapi juga di pelajari dan diteliti detil artinya sesuai dengan bidang keilmuan kita. Menumbuhkan (kembali) kecintaan umat Islam pada Al-Qur’an, akan menjadi dasar kembali bersinarnya peradaban Islam seperti beberapa ribu tahun silam.
- Memberikan gambaran baru tentang Eropa selain keindahan dan kemegahan bangunan di seantero dunia.
b. Kelemahan Novel
- Pada pemotongan sub bab dalam buku terkesan dipaksakan. Ketika sudah sampai pada akhir sub bab, tiba-tiba kita masuk lagi pada rangkaian cerita sebelumnya yang terputus.
- Pada bagian penutup, akan lebih menarik jika maksud dari penulis langsung masuk ke sub bab Ka’bah tanpa harus memasuki cerita yang lainnya, meski bagian tersebuy menjelaskan mengapa penulis ingin naik haji.
D. Kesimpulan
Kehancuran Islam
di Eropa adalah karena setitik nila perang saling menguasai yang menyebabkan
trauma berkepanjangan. Jika proses masuknya Islam terus konsisten melalui cara
damai seperti di Indonesia tentulah, Eropa hingga kini masih bercahaya
sebagaimana Cordoba berhasil menerangi abad gelap di Eropa.
Kini minoritas
Islam di Eropa harus berjuang untuk mengembalikan citra Islam yang keras
menjadi lembut, seperti Fatma yang tetap santun meski mendengar hujatan
dari orang-orang Eropa non muslim. Itulah sejatinya Islam, agama yang cinta
damai.
Sayang, selalu dan masih saja ada yang memaknai Islam harus ditegakkan dengan jalan yang keras, menebar teror melalui hembusan jihad, atau demo yang berujung anarkis seperti di Indonesia.
Sayang, selalu dan masih saja ada yang memaknai Islam harus ditegakkan dengan jalan yang keras, menebar teror melalui hembusan jihad, atau demo yang berujung anarkis seperti di Indonesia.
Sudah saatnya
umat Islam belajar dari kegagalan Islam berjaya di Eropa. Nafsu untuk menjadi
lebih, nafsu untuk menguasai, dan nafsu merasa paling benar atas nama agama
hanya akan memperburuk citra Islam di mata dunia.
E. Biodata Penulis
Biografi Hanum Salsabiela Rais
Hanum Salsabiela Rais, putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karier menjadi jurnalis dan presenter di Trans TV.Hanum memulai petualangan di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya Rangga Almahendra dan bekerja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.
Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga, dan mutiara hidup.
DAFTAR PUSTAKA