Tuesday, November 14, 2017

Menyusun Perencanaan Audit TSI

Pengertian Audit:


Audit atau pemeriksaandalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima.
Ada beberapa jenis audit
Audit keuangan adalah audit terhadap laporan keuangan suatu entitas (perusahaan atau organisasi) yang akan menghasilkan pendapat (opini) pihak ketiga mengenai relevansi, akurasi, dan kelengkapan laporan-laporan tersebut.
Audit Operasional adalah pengkajian atas setiap bagian organisasi terhadap prosedur operasi standar dan metode yang diterapkan suatu organisasi dengan tujuan untuk mengevaluasi efisiensi, efektivitas, dan keekonomisan (3E).
Audit Ketaatan adalah proses kerja yang menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur, standar, dan aturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
Audit Investigatif adalah: 1. "Serangkaian kegiatan mengenali (recognize), mengidentifikasi (identify), dan menguji (examine) secara detail informasi dan fakta-fakta yang ada untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya dalam rangka pembuktian untuk mendukung proses hukum atas dugaan penyimpangan yang dapat merugikan keuangan suatu entitas (perusahaan/organisasi/negara/daerah)." 2. "a search for the truth, in the interest of justice and in accordance with specification of law" (di negara common law)
Jadi, audit itu adalah suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut:
1.   Proses pengumpulan dan evaluasi bahan bukti
2.   Informasi yang dapat diukur. Informasi yang dievaluasi adalah informasi yang dapat diukur. Hal-hal yang bersifat kualitatif harus dikelompokkan dalam kelompok yang terukur, sehingga dapat dinilai menurut ukuran yang jelas, seumpamanya Baik Sekali, Baik, Cukup, Kurang Baik, dan Tidak Baik dengan ukuran yang jelas kriterianya.
3.   Entitas ekonomi. Untuk menegaskan bahwa yang diaudit itu adalah kesatuan, baik berupa Perusahaan, Divisi, atau yang lain.
4.   Dilakukan oleh seseorang (atau sejumlah orang) yang kompeten dan independen yang disebut sebagai Auditor.
5.   Menentukan kesesuaian informasi dengan kriteria penyimpangan yang ditemukan. Penentuan itu harus berdasarkan ukuran yang jelas. Artinya, dengan kriteria apa hal tersebut dikatakan menyimpang.
6.   Melaporkan hasilnya. Laporan berisi informasi tentang kesesuaian antara informasi yang diuji dan kriterianya, atau ketidaksesuaian informasi yang diuji dengan kriterianya serta menunjukkan fakta atas ketidaksesuaian tersebut.

Proses Audit

Audit dalam konteks teknologi informasi adalah memeriksa apakah sistem komputer berjalan semestinya. Tujuh langkah proses audit:
1.     Implementasikan sebuah strategi audit berbasis manajemen risiko serta control practice yang dapat disepakati semua pihak.
2.     Tetapkan langkah-langkah audit yang rinci.
3.     Gunakan fakta/bahan bukti yang cukup, handal, relevan, serta bermanfaat.
4.     Buatlah laporan beserta kesimpulannya berdasarkan fakta yang dikumpulkan.
5.     Telaah apakah tujuan audit tercapai.
6.     Sampaikan laporan kepada pihak yang berkepentingan.
7.     Pastikan bahwa organisasi mengimplementasikan managemen risiko serta control practice.
Sebelum menjalankan proses audit, tentu saja proses audit harus direncanakan terlebih dahulu. Audit planning (perencanaan audit) harus secara jelas menerangkan tujuan audit, kewenangan auditor, adanya persetujuan managemen tinggi, dan metode audit. Metodologi audit:
1.     Audit subject. Menentukan apa yang akan diaudit.
2.     Audit objective. Menentukan tujuan dari audit.
3.     Audit Scope. Menentukan sistem, fungsi, dan bagian dari organisasi yang secara spesifik/khusus akan diaudit.
4.     Preaudit Planning. Mengidentifikasi sumber daya dan SDM yang dibutuhkan, menentukan dokumen-dokumen apa yang diperlukan untuk menunjang audit, menentukan lokasi audit.
5.     Audit procedures and steps for data gathering. Menentukan cara melakukan audit untuk memeriksa dan menguji kendali, menentukan siapa yang akan diwawancara.
6.     Evaluasi hasil pengujian dan pemeriksaan. Spesifik pada tiap organisasi.
7.     Prosedur komunikasi dengan pihak manajemen. Spesifik pada tiap organisasi.
8.     Audit Report Preparation. Menentukan bagaimana cara memeriksa hasil audit, yaitu evaluasi kesahihan dari dokumen-dokumen, prosedur, dan kebijakan dari organisasi yang diaudit.
Struktur dan isi laporan audit tidak baku, tapi umumnya terdiri atas:
Pendahuluan. Tujuan, ruang lingkup, lamanya audit, prosedur audit.
Kesimpulan umum dari auditor.
Hasil audit. Apa yang ditemukan dalam audit, apakah prosedur dan kontrol layak atau tidak
Rekomendasi. Tanggapan dari manajemen (bila perlu).
Exit interview. Interview terakhir antara auditor dengan pihak manajemen untuk membicarakan temuan-temuan dan rekomendasi tindak lanjut. Sekaligus meyakinkan tim manajemen bahwa hasil audit sahih
Teknik audit adalah cara-cara yang ditempuh auditor untuk memperoleh pembuktian dalam membandingkan keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya.

Teknik audit erat hubungannya dengan prosedur audit,   dimana   teknik-teknik   audit   digunakan dalam suatu prosedur audit untuk mencapai tujuan audit.

Ada beberapa prosedur audit terhadap pengendalian  yang  harus  dilakukan  langsung olehauditor (secara manual), dan beberapa prosedur yang dapat menggunakan dukungan komputer seperti tabel berikut ini:

Pengendalian Internal dan Prosedur Audit
SUMBER :
https://id.wikipedia.org/wiki/Audit
http://openstorage.gunadarma.ac.id/linux/docs/v06/Kuliah/SistemOperasi/BUKU/SistemOperasi-4.X-2/ch22s10.html

Tuesday, October 31, 2017

Konsep, Metode, dan Regulasi Audit Teknologi Sistem Informasi

PENGERTIAN AUDIT TEKNOLOGI INFORMASI

Audit teknologi informasi (Inggris: information technology (IT) audit atau information systems (IS) audit) adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh.
Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis.
Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasisecara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai target organisasinya.

KONSEP AUDIT TSI
Perencanaan (Planning)
Tahap perencanaan ini yang akan dilakukan adalah menentukan ruang lingkup (scope), objek yang akan diaudit, standard evaluasi dari hasil audit dan komunikasi dengan managen pada organisasi yang bersangkutan dengan menganalisa visi, misi, sasaran dan tujuan objek yang diteliti serta strategi, kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pengolahan investigasi.

Perencanaan meliputi beberapa aktivitas utama, yaitu:
·        Penetapan ruang lingkup dan tujuan audit
·        Pengorganisasian tim audit
·        Pemahaman mengenai operasi bisnis klien
·        Kaji ulang hasil audit sebelumnya
·        Penyiapan program audit


Pemeriksaan Lapangan (Field Work)
Tahap ini yang akan dilakukan adalah pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan pihak-pihak yang terkait. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapan berbagai metode pengumpulan data yaitu: wawancara, quesioner ataupun melakukan survey ke lokasi penelitian.

Pelaporan (Reporting)
Setelah proses pengumpulan data, maka akan didapat data yang akan diproses untuk dihitung berdasarkan perhitungan maturity level. Pada tahap ini yang akan dilakukan memberikan informasi berupa hasil-hasil dari audit. Perhitungan maturity level dilakukan mengacu pada hasil wawancara, survey dan rekapitulasi hasil penyebaran quesioner. Berdasarkan hasil maturity level yang mencerminkan kinerja saat ini (current maturity level) dan kinerja standard atau ideal yang diharapkan akan menjadi acuan untuk selanjutnya dilakukan analisis kesenjangan (gap). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kesenjangan (gap) serta mengetahui apa yang menyebabkan adanya gap tersebut.

Tindak Lanjut (Follow Up)
Tahap ini yang dilakukan adalah memberikan laporan hasil audit berupa rekomendasi tindakan perbaikan kepada pihak managemen objek yang diteliti, untuk selanjutnya wewenang perbaikan menjadi tanggung jawab managemen objek yang diteliti apakah akan diterapkan atau hanya menjadi acuhan untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

PROSES AUDIT TSI

Proses Audit dalam konteks teknologi informasi adalah memeriksa apakah sistem informasi berjalan semestinya. Tujuh langkah proses audit sistem informasi yaitu:
      Implementasikan sebuah strategi audit berbasis manajemen resiko serta control practice yang dapat disepakati oleh semua pihak
      Tetapkan langkah-langkah audit yang rinci
      Gunakan fakta atau bahan bukti yang cukup, handal, relevan, serta bermanfaat
      Buat laporan beserta kesimpulan berdasarkan fakta yang dikumpulkan
      Telaah apakah tujuan audit tercapai
       Sampaikan laporan kepada pihak yang berkepentingan
      Pastikan bahwa organisasi mengimplementasikan managemen resiko serta control practice.


Perencanaan sebelum menjalankan proses audit dengan metodologi audit yaitu:
a)            Audit subject
      b)      Audit objective
      c)      Audit Scope
      d)     Preaudit planning
      e)      Audit procedures and Steps for data gathering
      f)       Evaluasi hasil pengujian dan pemeriksaan
      g)      Audit report preparation

Berikut struktur isi laporan audit secara umumnya (tidak baku):
     a)      Pendahuluan
     b)      Kesimpulan umum auditor
     c)      Hasil audit
     d)     Rekomendasi
     e)      Exit interview
 
TEKNIK AUDIT
Ada beberapa pendekatan yang dapat dipilih oleh seorang auditor apabila menggunakan teknik audit berbantuan komputer, yaitu melakukan pengujian aplikasi atau melakukan pengujian substantif.

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan apabila auditor tersebut memilih melakukan pengujianaplikasiadalah:

1. TestData
Metode ini menggunakan data masukan yang telah dipersiapkan auditor dan menguji data tersebut dengan salinan (copy) dari perangkat lunak aplikasi auditan. Hasil pemrosesan data tersebut akan dibandingkan dengan ekspektasi auditor. Jika ada hasil yang tidak sesuai, mungkin ini suatu indikasi penyimpangan logika atau mekanisme pengendalian.

2. IntegratedTestFacility(ITF)
Adalah suatu pendekatan teknik terotomatisasi yang memungkinkan auditor menguji alur logika dan kendali suatu aplikasi pada saat operasi normal berlangsung.
3. ParallelSimulation(PS)
Pendekatan ini mengharuskan auditor untuk membuat suatu program yang menyimulasikan fungsi utama tertentu dari aplikasi yang sedang diuji.
Sedangkan untuk melakukan pengujian substantif (misalnya detail transaksi atau saldo perkiraan),makaauditordapatmemilihteknik:
1. EmbaddedAuditModule(EAM)
Merupakan suatu teknik dimana satu atau lebih modul program tertentu dilekatkan di suatu aplikasi untuk mencatat secara tersendiri serangkaian transaksi yang telah ditentukan ke dalamfileyangakandibacaolehauditor
2. GeneralizedAuditSoftware(GAS)
Adalah pendekatan yang menggunakan suatu perangkat lunak tertentu yang dimanfaatkan untuk menyeleksi, mengakses, mengorganisasikan data untuk kepentingan pengujian substantif. Pendekatan ini memungkinkan auditor untuk mengakses dan mengambil berbagai file data ke dalam computer untuk kemudian melakukan berbagai pengujian yang diperlukan. Pendekatan ini merupakan teknik yang paling populer karena relatif lebih mudah karena tidak diperlukan kemampuan teknik komputasi yang cukup mendalam.

REGULASI AUDIT TSI
Dengan dominannya  penggunaan komputer dalam membantu kegiatan operasional diberbagai perusahaan, maka diperlukan standar-standar kontrol sebagai alat pengendali internal untuk menjamin bahwa data elektronik yang diproses adalah benar. Beberapa jenis standar kontrol yaitu:
    a)      COSO (Comitte Of Sponsoring Organizationof the treadway commission’s)
Yaitu dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan untuk menyatukan pandangan dalam komunitas bisnis berkaitan dengan isu-isu seputar pelaporan keuangan yang mengandung fraud (penggelapan).Tahun 1992, COSO menyusun dan Menerbitkan Internal Control Integrated Framework yang berisi rumusan definisi pengendalian intern, pedoman penilaian, serta perbaikan terhadap sistem pengendalian intern.Tahun 2004, COSO mengembangkan Internal Control Integrated Framework dengan menambah cakupan tentang manajemen  dan strategi resiko yang disebut ERM (Enterprise Risk Manajement).
Pencapaian tujuan pengendalian intern yang didefenisikan COSO:   
     1.      Efektifitas dan efisiensi aktivitas operasi
     2.      Kehandalan pelaporan keuangan
     3.      Ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
     4.      Pengamanan aset entitas.

     b)      COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
Yaitu alat pengendalian untuk informasi dan tekhnology terkait dan merupakan standar terbuka yang dikembangkan oleh ISACA melalui ITGI (Information and Technology Governance Institute)pada tahun 1992. Tujuan dari COBIT yaitu untuk mengembangkan , melakukan riset dan mempublikasikan suatu standar teknologi informasi yang diterima umum dan selalu up to date untuk digunakan dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

     c)      SARBOX (Sarbanes-Oxley Act)
Yaitu merupakan peraturan yang ditandatangani Presiden George W.Bush tanggal 30 juli 2012 untuk mereformasi dunia pasarmodal Amerika Serikat. Tujuan SARBOX yaitu:
1.            Meningkatkan akuntabilitas manajemen dengan memastikan bahwa manajemen akuntan dan  pengacara memiliki tanggung jawab atas informasi keuangan yang menjadi tanggung jawab mereka.
2.            Meningkatkan pengungkapan dengan berusaha untuk menyatakan bahwa beberapa kejadian kunci dan transaksi luar biasa tidak mendapatkan pengawasan hanya karena tidak disyaratkan untuk diungkap di publik.
3.            Meningkatkan pengawasan rutin yang lebih intensif oleh SEC.
4.            Meningkatkan akuntabilitas akuntan.

    d)     ISO 17799
Yaitu standar untuk sistem manajemen keamanan informasi meliputi dokomen kebijakan keamanan informasi, alokasi keamanan informasi tanggung-jawab,menyediakan semua para pemakai dengan pendidikan dan pelatihan didalam keamanan informasi, mengembangkan suatu sistem untuk pelaporan peristiwa keamanan, memperkenalkan virus kendali, mengembangkan suatu rencana kesinambungan bisnis, mengendalikan pengkopian perangkat lunak kepemilikan, surat pengantar arsip organisatoris, mengikuti kebutuhan perlindungan data, dan menetapkan prosedure untuk mentaati kebijakan keamanan.

    e)      BASEL II
BASEL II dibentuk yaitu sebagai penerapan kerangka pengukuran bagi risiko kredit, sistem ini mensyaratkan Bank-bank  untuk memisahkan eksposurnya ke dalam kelas yang lebih luas, yang menggambarkan kesamaan tipe debitur(hutang).



Metode Audit
·        Audit Planning

1.      Tanggung jawab : Piagam audit harus mendefinisikan misi, tujuan, sasaran audit sistem informasi. Pada tahap ini didefinisikan juga key performance indicators dan proses evaluasi audit.
2.      Kewenangan : Piagam audit harus secara jelas menyebutkan otoritas yang ditugaskan ke auditor sistem informasi sehubungan dengan pekerjaan penilaian resiko yang akan dilakukan, hak untuk mengakses informasi klien, ruang lingkup atau batasan lingkup, fungsi klien dan ekpektasi audit.
3.      Akuntabilitas : Piagam audit harus secara jelas mendefinisikan garis pelaporan, penilaian kepatuhan, dan tindakan yang disepakati.
4   Sejumlah alat, khusus untuk membantu auditor berjalan audit pada database.

·        Risk Assessment and Business Process Analysis

Proses kuantifikasi resiko disebut risk assessment. Penilaian resiko berguna dalam pengambilan keputusan seperti :
1.      Fungsi area / bisnis yang diaudit.
2.      Sifat, luas dan waktu prosedur audit.
3.      Jumlah sumber daya yang akan dialokasikan untuk audit.

·        Performance of Audit Work
Dalam pelaksanaan audit standar sistem informasi harus memberi pengawasan, mengumpulkan bukti audit dan mendokumentasikan pekerjaan audit. Untuk mencapai tujua tersebut dilalui proses seperti :
1.      Membentuk proses penkajian internal dimana karya satu orang ditinjau oleh orang lain, sebaiknya orang yang lebih senior.
2.      Mendapatkan bukti yang cukup, dapat diandalkan dan relevan untuk diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan, konfirmasi, dan penghitungan ulang.
3.      Mendokumentasika pekerjaan dengan menggambarkan pekerjaan audit dan bukti audit dikumpulkan untuk mendukung temuan auditor.

Alat Audit
Tujuan dari paduan ini adalah untuk membantu perusahaan dalam mempersiapkan laporan audit yang dapat dipahami dan didukung dengan baik  yang sesuai dengan persyaratan standar audit dan Sistem Informasi dan pedoman Audit dan Assurance IS yang diterbitkan oleh ISACA. Panduan ini juga dirancang untuk membantu memastikan bahwa ringkasan hasil audit yang dipresentasikan dengan jelas dan laporan audit  menyajikan hasil kerja yang dilakukan secara jelas, ringkas, dan lengkap.
Panduan ini berlaku untuk audit Sistem Informasi  yang dilakukan oleh auditor internal, ekstenal atau pemerintah, walaupun  penekanan yang diberikan  pada isi laporan dapat bervariasi, tergantung pada jenis keterlibatan audit dan oleh siapa tindakan tersebut dilakukan. Bimbingan juga diberikan pada organisasi laporan, penulisan, review dan editing, serta presentasi.

STANDAR DAN KERANGKA KERJA
Standar Audit SI tidak lepas dari standar professional seorang auditor SI. Standar professional adalah ukuran mutu pelaksanaan kegiatan profesi yang menjadi pedoman bagi para anggota profesi dalam menjalankan tanggungjawab profesinya.
Standar profesional adalah batasan kemampuan (knowledge, technical skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang aturan-aturannya dibuat oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Beberapa diantaranya adalah:
•       ISACA : IT Standards, Guidelines, and Tools and Techniques for Audit and Assurance and Control Professionals
•       IIA : International Professional Practices Framework / IPPF
•       IASII : Standar Audit Sistem Informasi
•       BI : Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank / SPFAIB
•       BPPT : Framework, Kode Etik & Standar, Pedoman Umum Audit Teknologi

S1 Audit Charter
•       Tujuan, tanggung jawab, kewenangan dan akuntabilitas dari fungsi audit sistem informasi atau penilaian audit sistem informasi harus didokumentasikan dengan pantas dalam sebuah audit charter atau perjanjian tertulis.
•       Audit charter atau perjanjian tertulis harus mendapat persetujuan dan pengabsahan pada   tingkatan yang tepat dalam organisasi.
S2 Independence
•       Professional Independence
•       Dalam semua permasalahan yang berhubungan dengan audit, auditor sistem  informasi harus independen terhadap auditee baik dalam sikap maupun penampilan.
•       Organisational Independence
•       Fungsi audit sistem informasi harus independen tehadap area atau aktivitas yang sedang diperiksa agar tujuan penilaian audit terselesaikan.
S3 Professional Ethics and Standards
•       Auditor  sistem informasi harus tunduk pada kode etika profesi dari ISACA dalam melakukan tugas audit.
•       Auditor sistem informasi harus patuh pada penyelenggarakan profesi, termasuk observasi terhadap standar audit profesional yang dipakai dalam melakukan tugas audit.
S4 Professional Competence
•       Auditor sistem informasi harus seorang profesional yang kompeten, memiliki  keterampilan dan pengetahuan untuk melakukan tugas audit.
•       Auditor sistem informasi harus mempertahankan kompetensi profesionalnya secara terus menerus dengan melanjutkan edukasi dan training.
S5 Planning
•       Auditor sistem informasi harus merencanakan peliputan audit sistem informasi sampai pada tujuan audit dan tunduk pada standar audit profesional dan hukum yang berlaku.
•       Audit sistem informasi harus membangun dan mendokumentasikan resiko yang didasarkan pada pendekatan audit.
S6 Performance of Audit Work
•       Pengawasan-staff audit sistem informasi harus diawasi untuk memberikan keyakinan yang masuk akal bahwa tujuan audit telah sesuai dan standar audit profesional yang ada.
•       Bukti-Selama berjalannya audit, auditor sistem informasi harus mendapatkan bukti yang cukup, layak dan relevan untuk mencapai tujuan audit. Temuan audit dan kesimpulan didukung oleh analisis yang tepat dan interprestasi terhadap bukti-bukti yang ada.
•       Dokumentasi-Proses audit harus didokumentasikan, mencakup pelaksanaan kerja audit dan bukti audit untuk mendukung temuan dan kesimpulan auditor sistem informasi.
S7 Reporting
•       Auditor sistem informasi harus menyajikan laporan, dalam pola yang tepat, atas penyelesaian audit.
•       Laporan audit harus berisikan ruang lingkup, tujuan, periode peliputan, waktu dan tingkatan kerja audit yang dilaksanakan.
•       Laporan audit harus berisikan temuan, kesimpulan dan rekomendasikan serta berbagai pesan, kualifikasi atau batasan dalam ruang lingkup bahwa auditor sistem informasi bertanggung jawab terhadap audit.
•       Auditor sistem informasi harus memiliki bukti yang cukup dan tepat untuk mendukung  hasil pelaporan.

Manajemen RESIKO
Didalam TSI, hal-hal yang perlu diperhatikan salah satunya adalah penilaian resiko. Konsep resiko dalam hal ini meliputi ancaman, kelemahan dan dampak dari penilaian resiko. Ancaman yang sering terjadi salah satunya adalah adanya kompleksitas dari TSI itu sendiri. Berbagai macam elemen dan variasi yang terdapat dalam TSI mewarnai perkembangan TSI kedepannya.

Keamanan dan pengendalian TSI dewasa ini menjadi kelemahan dalam penilaian resiko. Dalam hal ini, kedua hal tersebut menjadi suatu hal yang patut disorot dan diperhatikan agar dapat berkembang menjadi semakin baik. Memang hal ini bukan suatu hal yang mudah untuk dapat dilakukan, namun dengan melakukannya secara bersama-sama, saling menjaga, merawat dan memeliharanya, niscaya kelemahan ini dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Adapun dampaknya adalah aset yang ada dapat terlindungi.

Tipe-tipe resiko terdiri dari:
1. Resiko pengembangan
2. Resiko Kesalahan
3. Resiko Terhentinya Bisnis
4. Resiko Pengungkapan Informasi
5. Resiko Penggelapan

Proses penilaian resiko dapat dilakukan melalui tahap-tahap berikut ini:
a. Identifikasi objek (asset) yang akan dilindungi
b. Penentuan ancaman yang dihadapi
c. Menetapkan peluang kejadian
d. Menghitung besarnya dampak dan kelemahan sistem
e. Menilai alat-alat pengamanan yang ada
f. Rekomendasi dan implementasi

Proses perencanaan audit terdiri dari:
a. Penetapan tipe resiko
b. Untuk setiap tipe resiko, ancaman, kelemahan system, dampak diberi skor/skala tinggi, cukup, rendah atau tidak ada
c. Hitung skor resiko:
Resiko = ancaman x kelemahan x dampak
d. Urutkan resiko berdasarkan skor
e. Kaji ulang dan penyesuaian jika diperlukan
f. Buat rencana audit dengan prioritas resiko
g. Kaji ulang rencana dan penyesuaiannya
h. Laksanakan audit

Proses pemeriksaan Teknologi Sistem Informasi (TSI), dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Identifikasi spesifikasi sistem
b. Penilaian kompleksitas TSI
c. Penilaian resiko pra pemeriksaan
d. Pemeriksaan around the computer
e. Pemeriksaan through the computer
f. Pemeriksaan keuangan

Sumber
-         Hartatidewi3.blogspot.com/2014/05/auditing.teknologi.informasi.html
-         Id.netlog.com/miemaya/blog
-         https://dodyperdanaputra.wordpress.com/2014/12/29/teknologi.informasi.auditing

Thursday, January 12, 2017

IMPLEMENTASI ALGORITMA MINIMAX PADA PERMAINAN CATUR


   Abstrak

Manusia ada makhluk ciptaan yang paling sempurna, memiliki otak yang cerdas untuk berfikir,  masing-masing individu mempunyai kelebihan yang berbeda-beda, tapi manusia juga memiliki beberapa kelemahan seperi mudah lupa, mudah lelah, kurang teliti, malas dan lain sebagainya. Dari beberapa kelamahan itu munculah sebuah alat bantu kerja yang cepat dan akurat yaitu komputer. Semakin berkembangnya jaman, komputer bukan hanya dapat bertindak saja tapi juga dapat berfikir, dari situlah muncul istilah Artificial Intellegence (AI) atau Kecerdasan Buatan.
            Salah satu contoh dari Kecerdasan Buatan adalah minimax, minimax adalah salah satu algoritma yang menggunakan teknik pencarian secara Depth-First Search (DFS). Salah satu media yang cocok dalam penggunaan teknik minimax ini adalah sebuah permainan sederhana yaitu Catur, beberapa alasan mengapa catur dapat menjadi media penerapan kecerdasan buatan antara lain catur sangat mungkin untuk dibandingkan dengan kemampuan manusia, mudah dimainkan dan dapat menentukan ukuran kesuksesan atau kegagalan.


1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah
        Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT  yang paling sempurna, dianugrahi sebuah otak yang dapat berfikir melebihi makhluk ciptaan lainnya dan tidak bisa dibandingkan dengan komputer manapun.
         Kemudian muncul sebuah ide untuk menciptakan komputer cerdas yang dapat berfikir. Dulu komputer diciptakan sebagai alat bantu kerja agar lebih cepat, akurat dan rapi. Komputer hanya bertindak jika ada perintah atau instruksi dari manusia. Seiring berkembangnya jaman, komputer tidak hanya bertindak melainkan dapat berfikir. Sehingga muncul istilah Artificial Intellgence (AI) atau Kecerdasan Buatan.
         Ada beberapa alasan mengapa permainan catur ini digunakan sebagai media penerapan kecerdasan buatan, antara lain:
a. Sangat mungkin untuk dibandingkan dengan kemampuan manusia.
b. Dapat menentukan ukuran kesuksesan atau kegagalan.
c. Mudah dimainkan setiap orang.
d. Setiap pengguna mampu bermain dengan baik bersama komputer. Pemain hanya membutuhkan ketelitian dan logika berfikir yang baik.
        Minimax menggunakan teknik pencarian Depth-First Search dengan kedalaman terbatas dan mempunyai fungsi evaluasi statis, dengan mengansumsikan bahwa lawan akan membuat langkah terbaik yang akan dilakukannya. Algoritma minimax cocok digunakan pada permainan catur, tic-tac-toe, go, othello dan sebagainya.

1. 2. Identifikasi Masalah
Beberapa masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
a.  Bagaimana menerapkan algoritma minimax pada permainan catur.
b. Bagaimana cara membandingkan langkah komputer random dengan langkah komputer yang      menggunakan algoritma minimax.

1. 3. Maksud dan Tujuan
        Maksud dari penelitian ini adalah menerapkan dan mengimplementasikan algoritma minimax pada permainan catur, adapun tujuan penelitian ini yaitu:
a.  Membandingkan langkah komputer random dan langkah komputer menggunakan algoritma minimax pada permainan catur.
b. Mengetahui hasil perbandingan langkah antara komputer random dengan komputer menggunakan algoritma minimax.
c. Untuk mengetahui solusi pencarian dan pelacakan yang dilakukan algoritma minimax pada permainan catur.

1. 4. Batasan Masalah
          Penerapan kecerdasan buatan ini akan sangat kompleks dan rumit bila semua aspek dan kriteria harus terpenuhi. Agar penelitian ini mencapai sasaran yang jelas maka batasan masalah pada penelitian ini yaitu:
a.  Permainan ini dilakukan oleh satu orang pemain melawan komputer.
b. Permainan ini tidak terkoneksi dengan jaringan.
c.  Papan permainan berbentuk kotak persegi 8x8.
d. Algoritma yang digunakan dalam pencarian dan pelacakan adalah algoritma minimax.

2. Tinjauan Pustaka

2.1. Catur
          Catur merupakan permainan two player strategy board game yang masih popular hingga saat ini. Catur adalah permainan mental dengan menggunakan pikiran yang dimainkan oleh dua orang. Sebelum bermain, pecatur terlebih dahulu memilih bidak atau biji  catur yang akan ia mainkan. Terdapat dua warna untuk membedakan bidak catur, yaitu hitam dan putih. Pemegang bidak putih akan jalan terlebih dahulu diikuti oleh pemegang bidak hitam secara bergantian hingga permainan selesai[1].

2.2. Kecerdasan Buatan
          Kecerdasan Buatan (AI) adalah kecerdasan mesin dan cabang ilmu computer yang bertujuan untuk menciptakan komputer cerdas yang dapat berfikir layaknya manusia. Buku AI mendefinisikan bidang ini sebagai “the study and design of intelligent agent” dimana agent cerdas adalah system yang merasakan lingkungannya dan mengambil tindakan untuk memaksimalkan peluang yang sukses. John McCarthy menciptakan istilah ini pada tahun 1956 yang di definisikan sebagai “ilmu dan teknik membuat mesin cerdas”[3]. AI sangat banyak digunakan pada aplikasi computer terutama pada aplikasi permainan. Pada two player board games strategy, AI digunakan untuk mengatur strategi dan memutuskan langkah yang dapat mengimbangi permainan player sehingga player yang memainkan aplikasi ini seakan – akan bermain dengan player lain.

2.3. Algoritma minimax
          Algoritma minimax merupakan salah satu algoritma yang digunakan pada permainan dua player yang memiliki AI atau pada zero sum games seperti catur[2]. Pada algoritma minimax, pengecekan akan dilakukan untuk mencari semua kemungkinan yang ada. Pengecekan tersebut akan menghasilkan pohon permainan yang berisi semua kemungkinan tadi. Akan dibutuhkan resource dengan skala besar untuk menangani pencarian pohon solusi tersebut karena kombinasi kemungkinan pada permainan catur sangat banyak.
          Pada algoritma minimax, komputer akan menganalisa semua pohon permainan sehingga komputer akan mengambil langkah yang dapat membuat lawan mendapatkan keuntungan minimum dan keuntungan maksimum pada komputer itu sendiri[2],[6]. Dalam penentuan keputusan tersebut dibutuhkan suatu nilai atau bobot yang dapat merepresentasikan kerugian atau keuntungan yang akan diperoleh pada setiap langkah, sehingga langkah yang memiliki nilai terbesar (keuntungan terbesar dan kerugian terkecil) akan dipilih.

3. Daftar Pustaka
     
[1] Catur - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
      http://id.wikipedia.org/wiki/Catur

[2] Minimax - Wikipedia, the free encyclopedia
     http://en.wikipedia.org/wiki/Minimax

[3] John McCarthy. (2007). "What Is Artificial Intellegence?"
     http://www-formal.stanford.edu/jmc/whatisai/whatisai.html

[4] Ayuningtyas, Nadhira. (2008). “Algoritma minimax dalam permainan checkers”.  Dalam Strategi Algoritmik 2008. Bandung, Indonesia: Institut Teknologi Bandung.

[5] Kusumadewi, Sri. (2003). Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta: Graha Ilmu.

[6] Silvia Garcia Diez, Jerrome Laforge, and Marco Saerens, "An Optimally Randomized Minimax Algorithm," February 2010.

Wednesday, January 11, 2017

LOGIKA ATAU ALGORITMA DARI WATER JUG

Algoritma Water Jug

Jika anda memiliki dua kendi air kosong di tangan Anda. Satu memegang 3 galon air, yang lain memegang 5 galon air. Anda perlu menggunakan dua kendi ini untuk mengukur persis 4 galon air.





Ini masalah matematika sederhana. Mengabaikan air dan kendi sejenak jika Anda masih terjebak. Bagaimana Anda dapat menambah atau mengurangi 3 dan 5 untuk mendapatkan 4? Ini benar-benar semua yang Anda lakukan angka hanya terjadi untuk mewakili galon. Menambahkan air atau membuangnya keluar adalah benar-benar hanya penambahan dan pengurangan.


Algoritma mendapatkan 4 liter air dari dua buah galon yg ber volume 3 liter dan 5 liter

1. Isi penuh galon 3 liter



2. Tuangkan air dari galon 3 liter ke dalam galon 5 liter




3. Isi penuh kembali galon 3 liter


4. Tuangkan kembali air di dalam galon 3 liter ke dalam galon 5 liter hingga penuh


5. Buang seluruh air di dalam galon 5 liter 


6. Tuangkan air yang tersisa di galon 3 liter ke dalam galon 5 liter


7. Isi penuh galon 3 liter 


8. Tuangkan air di dalam galon 3 liter ke dalam galon 5 liter (1 + 3 = 4)



Problem Solved!
Hasil akhirnya, kita mendapatkan 4 liter air dari galon bervolume 5 liter dan 3 liter.