Monday, May 4, 2015

LEGENDA PERCINTAAN NYI RORO KIDUL DAN RAJA JAWA



Raja-raja di seluruh Nusantara pernah bersinggungan dengan penguasa laut Kidul (Selatan). Ada tiga penguasa laut Selatan. Dan mereka inilah yang menjadikan raja-raja tersebut sebagai budak seks. Konon, diantara penguasa itu ada yang berasal dari titisan Dewi, dan namanya Dewi Nawangwulan.

Jauh sebelum adanya kisah Joko Tarub dan Nawangwulan, di negeri awan, yaitu negeri para Dewa-Dewi, terdapat sebuah kerajaan langit. Kerajaan langit itu dipimpin oleh seorang Ratu. Ratu itu bernama Dewi Sekarwatimara atau Dewi Naga Selatan atau Dewi Kidul. Dari namanya, Dewi Sekarwatimara berbadan setengah manusia tapi setengah ular. Dewi Sekarwatimara termasuk golongan bangsa jin.

Dewi Sekarwatimara memiliki tiga orang putri. Masing-masing memiliki sukma sejati Ular Kobra, Naga Hijau dan Ular Sanca. Ketiga putri bangsa jin itu memiliki sifat dan perwatakan yang berbeda-beda. Dewi Rara Panas atau Dewi Rara Kidul adalah Dewi yang berparas cantik dan memiliki kemiripan dengan ibunya Dewi Naga Selatan yang bersifat welas asih dan bijaksana.

Sementara Dewi Ningrum adalah ratu yang berwatak dingin dan lemah lembut, tokoh ini jarang dikenal oleh manusia. Sebab dirinya jarang muncul di dunia alam manusia.
          
Sedangkan saudara tuanya bernama Dewi Blorong. Karakter Dewi Blorong keras dan jahat. Blorong dikenal sangat digdaya dan menjadi ratu penguasa ilmu kegelapan. Dialah Dewi dari segala lelembut yang menyebarkan ilmu kekebalan, ilmu kesaktian, ilmu santet dan sebagainya. Dewi Blorong menjadi penyebab segala bentuk kekacauan di alam manusia.
          
Biasanya para pelaku spiritual selalu digoda dan ditemui oleh bangsa lelembut seperti Dewi Blorong maupun Dewi Rara Panas. Sedangkan Dewi Ningrum amat jarang menampakan diri pada manusia.
          
Tersebutlah nama Dewi Kaditha. Dia adalah putri raja dari ratu di zaman Kerajaan Sunda Kuno yaitu Prabu Munding Wangi. Dewi Kaditha awalnya sangat cantik. Melihat kecantikan putri Prabu Munding Wangi tersebut, banyak punggawa yang jatuh hati. Namun cinta mereka ditolak. Tidak sedikit orang yang patah hati. Maka, digunakanlah ilmu teluh. Dewi Katidha diguna-gunai dengan ilmu hitam. Kontan, sekujur tubuh Katidha bersisik, berbau amis dan busuk.
          
Tabib istana tidak ada yang mampu mengobati penyakit putri Raja Munding Wangi. Manca negara pun dijelajah untuk mendapatkan tabib dan obat bagi Dewi Katidha. Rasa putus membuat Dewi Katidha melarikan diri dari istana. Dia kemudian berjalan tanpa arah tujuan, hingga sampailah ia di suatu tebing samudra yang ombaknya bergelombang sangat dahsyat.
          
Di tempat itu ia duduk termenung seorang diri. Dalam lamunanya, Dewi Katidha mendengar suara bisikan. Dan ternyata suara bisikan itu berasal dari Dewi Blorong. “Hai Dewi Kaditha, aku bisa menyembuhkan penyakit yang engkau derita. Bahkan menganugerahkan kemuliaan kepadamu, asal engkau mau menjadi pengikutku,” kata Blorong. “Bila engkau menerima tawaranku, engkau harus menceburkan diri ke samudra di depanmu,” perintah Blorong.

Tanpa pikir panjang, Dewi Katidha langsung menceburkan diri ke dalam gulungan ombak yang menggegar. Tubuh Dewi Katidha hilang tersapu ombak yang dahsyat. Dia kemudian menjadi Ratu Alam Gaib yang menguasai sepanjang pantai selatan di pelabuhan Ratu, Sukabumi,Jawa Barat.

Sebuah makam berukuran besar di Karanghawu, Sukabumi, Jawa Barat merupakan bukti kematian Dewi Katidha setelah terjun ke dalam laut dan berganti wujud halus. Jiwanya masuk ke alam lelembut, alam kajiman dan menjadi anak angkat Blorong.

Jaka Tarub dan Nawangwulan cerita penguasa laut selatan tidak berhenti sampai di situ. Adalah Nawangwulan. Dia  anak dari Ratu Atas Angin. Pada setiap malam purnama tiba, Putri Nawangwulan turun ke dunia dan mandi di sebuah telaga bersama ke tujuh saudara-saudaranya.

Dari ke Tujuh bersaudara Putri Nawangwulan terlihat paling cantik. Selain cantik, Nawangwulan juga sangat baik hati. Mereka bersenang- senang, tertawa bersuka ria.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata Jaka Tarup mengintip dari semak-semak. Jaka Tarup sangat menikmati senda gurau dan lekuk tubuh Dewi-dewi Atas Awan yang sedang mandi tersebut. Sambil menikmati pemandangan yang langka, otaknya berpikir menyembunyikan selendang dan pakaian salah satu bidadari.

Tibalah saatnya para bidadari tersebut untuk kembali terbang ke angkasa meniti pelangi. Enam bidadari telah siap dengan membentangkan selendangnya. Namun seorang putri masih sibuk mencari-cari, di manakah selendang yang ia letakkan. Alangkah masgulnya Nawangwulan saat mengetahui selendang dan pakaianya tidak berada di tempatnya.

Selendang itu merupakan pakaian yang menjadi alat terbang untuk kembali ke khayangan. Tapi kini selendang itu raib. Keenam orang saudaranya tidak dapat menunggu lama. Mereka segera terbang meninggalkan Nawangwulan dalam keadaan menangis.

Akhirnya ia mengadu dan menangis sejadi-jadinya di sebuah akar pohon besar. Dari tepi telaga yang tak jauh dari tempat bersimpuh Nawangwulan, Jaka Tarub mengambil kesempatan. Pria itu merayu sang putri agar jangan terlalu bersedih dan berduka. Karena ia bersedia menolong, memberi pakaian dan tempat tinggal. Tentu saja dengan memberikan harapan kepada Nawangwulan untuk bisa menemukan pakaian dan selendangnya agar ia bisa kembali ke khayangan.
          
Jaka Tarub tidak ingin dituduh kumpul kebo oleh penduduk desa. Karenanya dia mengajak menikah Nawangwulan. Itu pun sebagai syartat pernikahan agar dapat tinggal serumah.
          
Suatu ketika, Nawangwulan berhasil menemukan selendang miliknya di sebuah guci dalam sebuah kamar terlarang. Sebelumnya Jaka Tarub berpesan agar dirinya tidak memasuki salah satu kamar di rumah mereka tinggal. Kamar itu selalu terkunci dan bila ada Jaka Tarub, Nawangwulan tidak diperbolehkan mendekati kamar tersebut. Apalagi memasukinya.
          
Saat itu Nawangwulan penasaran. Ketika Jaka Tarub pergi, ia berniat memasukinya. Tanpa disangka ia menemukan pakaian dan selendang langitnya. Kemudian Nawangwulan pun mempersiapkan diri kembali ke telaga untuk terbang menuju angkasa menuju keraton Ratu Atas Angin. Dari pernikahan itu, Nawangwulan dan Jaka Tarub telah dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 1 tahun.
          
Sebenarnya sang putri berat meninggalkan anaknya semata wayang. Namun rasa kangennya terhadap keluarga Atas Awan mengharuskan memilih satu pilihan. Yaitu meninggalkan suami dan anak buah cinta mereka.

Sepeninggal Nawangwulan, Jaka Tarub menjadi sedih. Ia berlari sambil menggendong anaknya, memohon kepada Nawangwulan untuk tinggal beberapa masa lagi bersama mereka.
          
Pertemuan dan perpisahan selalu menghasilkan gejolak perasaan. Pertemuan dengan ibunya di Kerajaan Awan sangat menyenangkan hati Nawangwulan. Sayangnya di sisi lain, dirinya harus berpisah dengan suami dan anaknya. Dua keadaan itu menjadi kegalauan bagi istri Jaka Tarub. Selanjutnya, dengan memberanikan diri Nawangwulan meminta ijin kepada Ratu Atas Awan untuk turun kembali ke bumi untuk menemui suami dan anaknya.
      
“Sekali lagi kamu turun ke bumi anakku, engkau tidak aka bisa kembali ke khayangan lagi,” begitu kata Ratu Atas Awan. “Engkau akan menjadi manusia selamanya. Engkau akan mengalami sakit dan kematian. Anakku, engkau akan hidup di dunia selama 35 tahun dan anakmu juga tidak lama hidup di dunia, ia hidup hanya sampai remaja. Dan kelak, setelah engkau mengalami kematian, dirimu akan menjadi anak angkat dari Blorong.
Dirimu akan menjadi penguasa lautan di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya,” kata Ratu Atas Awan. “Dan anak semata wayangmu itu, ia akan ikut dirimu. Kalau sudah bulat tekatmu, bunda akan antarkan sekarang turun ke bumi. Tetapi satu hal yang aku inginkan, jangan kau lupakan ajaran leluhur kita,” pesan Ratu Atas Awan.

Dengan berlinang airmata, Nawangwulan mencium tangan ibundanya. “Anakmu memohon restu bunda. Dan berilah hamba bekal ilmu untuk hidup di alam manusia yang bisa hamba pakai sewaktu-waktu dalam keadaan yang genting,” pinta Nawangwulan kepada ibunya.

Dengan 50 ribu bala tentara dan kereta kencana yang ditarik 4 ekor kuda terbang, Nawangwulan turun ke bumi. Ia turun di dekat sebuah telaga, di mana tempat pertama bertemu dengan Jaka Tarub. Nawangwulan turun dan ditinggal sendiri. Setelah sampai di tempat tersebut, segera ia menuju ke rumah untuk bertemu dengan suami dan anaknya.

Rasa bahagia terbayang dalam hati dan pikirannya. Dengan terburu-buru Nawangwulan mendatangi rumah Joko Tarub. Sesampai di rumah, dirinya hanya melihat seorang anak usia enam tahun sedang bermain seorang sendiri. Dia bertanya kepada anak tersebut yang tak lain anaknya. “Kemana bapakmu, Nak?”

Anak itu menjawab dengan pandangan kagum bercampur bingung. “Ayahku tadi sedang berada di sawah. Mungkin sekarang sedang mengajarkan beladiri kepada para pemuda desa,” kata anak itu. Nawangwulan menangis hati dalam hati. Ingin rasanya ia memeluk tapi ia takut.

“Ya sudah, saya tunggu di sini sampai bapakmu pulang,” kata Nawangwulan.  “Kenalkan nama saya Ibu Nawangwulan,” kata Nawangwulan mengulurkan tangannya mendekati anaknya. “Oh, ini yang pernah diceritakan bapak. Bahwa saya mempunyai ibu berasal dari langit, bukan berasal dari bangsa manusia, tetapi berasal dari alam lain,” kata Rangga, begitu biasa ayahnya memanggil nama anak itu.
          
Putri Nawangwulan kaget. Tidak disangka bahwa bapaknya telah menceritakan ikhwal dirinya. Dipeluknya Rangga erat-erat dengan menahan tangis. Nawangwulan merasa baru beberapa bulan meninggalkan suami dan anaknya. Tetapi anak itu kini telah tumbuh begitu besar. Rasa rindu membuat kedua makhluk ibu dan anak ini bercanda dengan riangnya. Hingga tak lama kemudian datanglah Jaka Tarub. Mengetahui kepulangan istrinya, hati Jaka Tarub seakan tersiram bunga surga. 

Ratu Kidul Menikah dengan Raja. Suatu saat Nawangwulan mengajak jantung hatinya bermain di tepi sebuah pantai. Pantai itu terletak di kawasan Jawa Tengah. Dirinya ingin menunjukkan kepada putra tunggalnya untuk mengenal alam.
          
Tanpa ia sadari, ternyata Nawangwulan sedang diawasi oleh Blorong dan panglimanya. Blorong tahu, suatu saat nanti wanita dan anak ini akan menjadi penguasa laut selatan. ”Sekarang belum waktunya,” kata Blorong kepada panglimanya. “Biarkan mereka menikmati hidup alam manusia ini dengan tenang, hingga tiba waktunya mereka menjalani takdirnya, menjadi anak angkatku,” jelas Blorong.
          
Kebiasaan itu dilakukan Nawangwulan dan anaknya hingga beberapa lama. Hampir setiap hari mereka menikmati ombak, pasir dan pantai. Dan hampir setiap berada di pantai itu, Blorong dan panglimanya selalu mengawasi kedua calon penguasa pantai selatan kawasan Jawa Tengah itu.
          
Menginjak usia 20 tahun, Rangga mulai sering jatuh sakit. Tidak ada obat yang mampu membuat remaja itu sehat kembali. Karena sering memikirkan penyakit sang anak, Nawangwulan menjadi lupa mengurus diri. Ia juga tidak mau makan. Kebiasaan itu menyebabkan dirinya jatuh sakit. Saat itulah Nawangwulan ingat akan petuah ibunya Ratu Atas Awan. Bahwa usianya tidak akan melebihi 35 tahun. Dan anaknya akan meninggal dalam usia remaja.
          
Putri Nawangwulan mengadakan kontak batin dengan ibunya. Memang itulah jalan hidup bagi diri dan anaknya. Sudah menjadi suratan takdir bila ia hidup di alam manusia dan menjadi bagian dari manusia, dirinya kan mengalami kematian. Setelah itu dirinya akan hidup di alam jin dengan menjadi anak angkat yang kedua bagi Blorong.
          
Nawangwulan hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Tak berapa lama setelah melakukan kontak dengan ibunya, utusan Blorong datang menjemputnya. Utusan itu membawanya pergi menuju istana bawah laut.
          
Dewi Blorong telah menunggu kedatangan arwah ibu dan anak itu di istananya. Dengan duduk di singgasananya Blorong menerima Putri Nawangwulan. Untuk beberapa lama kemudian Nawangwulan mendapat pelajaran ilmu kesaktian dan kejayaan. Selain dirinya, Rangga juga mendapatkan gemblengan Blorong yang kelak dipersiapkan membantu ibunya dalam menggoda manusia. “Saya Bunda, pengganti ibumu di angkasa,” begitu kata Blorong kepada Nawangwulan. “Aku telah ajarkan berbagai ilmu kepada kalian berdua. Dengan ilmu itu, engkau memiliki tugas untuk membujuk bangsa manusia untuk menjadi pengikutku,” jelas Blorong.
          
“Carilah manusia yang lemah iman dan ajarkan tentang ilmu politik kekuasaan dan kesaktian. Tentu saja setelah mereka menyepakai perjanjian yang kita buat untuk manusia. Perjanjian itu adalah bahwa manusia yang telah meminta bantuanmu harus menyerahkan anak keturunannya untuk mengabdi dan menjadi bagian bangsa kita kaum lelembut,” pesan Blorong panjang lebar.
          
Nawangwulan hanya menurut kehendak Blorong. Setelah dua tahun lamanya dia menimba ilmu dari Blorong, barulah ia diberi sebuah istana di sebelah istana Blorong. Ada larangan dari Blorong, bahwa ia melarang pengikutnya memakai pakaian berwarna merah dan hijau di sepanjang wilayah pantai kekuasaannya. Barang siapa yang melanggarnya akan mendapatkan hukuman dari Blorong.
          
Sasaran pertama yang menjadi penganut dan penerima jasa Ratu Pantai Selatan yang berkuasa di Jawa Tengah adalah seorang senopati pada masa kerajaan Mataram, tepatnya di sekitar wilayah pantai Jawa Tengah.
          
Konon, ketika sedang asyik dalam peristirahatannya, tiba-tiba laut berguncang keras. Guncangan ini membuat istana Nawangwulan kaget. Untuk mengetahui asal muasal guncangan, lalu dibukanya kaca Benggala pemberian Dewi Blorong.
          
Setelah mengetahui sebab musabab terjadinya guncangan istana bawah lautnya, Ratu Nawangwulan keluar dari istananya. Dihampirinya laki-laki muda yang sedang bertapa di atas batu di pinggiran tebing. “Wahai, Senopati ada apa engkau mengganggu dan mengguncangkan istanaku. Apa yang kamu inginkan,” tegur Nawangwulan si Ratu Pantai Selatan. ”Wahai Ratu Penguasa Laut Selatan. Saya ingin jadi Raja, bisakah Ratu membantu saya untuk mewujudkan keinginan saya,” kata senopati tersebut.
          
Ratu Nawangwulan menyanggupi keinginan Senopati untuk menjadi raja besar di Tanah Jawa. Tetapi dengan syarat. Akhirnya pertapa yang senopati itu menikah dengan Nawangwulan. Pernikahan itulah yang menjadi syarat terkabulnya keingnan sang senopati.
          
Kanjeng Ratu lalu membawa senopati ke istananya. Di sana dilakukan pesta pernikahan. Tapi sebelum itu Ratu Nawangwulan melapor kepada Blorong bahwa dirinya hendak melakukan pernikahan dengan manusia. Sebab manusia itu berkeinginan menjadikan raja terkenal diri dan keturunannya di tanah Jawa. Keinginan itu direstui oleh Blorong.
          
Pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah. Setelah itu Ratu Nawangwulan mengingatkan perjanjiannya kepada senopati untuk membuat tempat khusus bagi dirinya di dalam istananya.
          
Nawangwulan juga meminta kepada senopati agar anak-anak yang lahir nanti menjadi pengganti dirinya. Dengan demikian seluruh anak keturunannya kelak akan menjadi suami bagi Nawangwulan.
          
Panembahan Senopati mempunyai anak laki-laki yang berbadan sukma dengan Ratu Nawangwulan. Anak ini dinamakan Rangga. Sedangkan sang senopati akhirnya memiliki istana besar di Yogyakarta.
          
Begitulah cerita tiga penguasa ratu pantai selatan. Ketiganya menguasai sebagian lautan. Mereka adalah Ratu Kaditha atau Dewi Kaditha, Putri Nawangwulan atau Ratu Pantai Selatan dan Dewi Blorong.
          
Ketiga ratu inilah yang konon menciptakan banyak raja-raja kecil yang tersebar di nusantara. Dan mereka-mereka (raja) itu diharuskan menjadi suami dari Puteri Nawangwulan, Ratu Kaditha dan Dewi Blorong. Bahkan anak keturunannya nanti–yang juga raja–akan menggantikan kedudukan bapaknya dengan menjadi budak seks ketiga Ratu Pantai Selatan.
          
Ketiga ratu lelembut ini juga sering hadir pada orang yang sedang melakukan penuntutan ilmu gaib. Karena itu bagi Anda, diharapkan berhati-hati. Bagi siapa saja yang sedang menuntut ilmu gaib, bila salah melangkah akan merugikan diri sendiri dan anak cucu. Bahkan, bisa-bisa memasuki alam jin atau siluman, dan itu akan merubah takdir hidup kita.


MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP



Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Ia menempuh pendidikan di Jerman, Perancis, dan Inggris. Ia mempelajari filsafat di Universitas Berlin dan mendapat gelar doktor di Universitas Jena pada tahun 1813. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, dan meninggal dunia di sana pada tahun 1860.
Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel Kant dan juga pandangan Buddha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (das Ding an sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni "kehendak".

BIOGRAFI
Arthur Schopenhauer lahir di Danzig (sekarang Gdańsk). Dia adalah putra dari Heinrich Floris Schopenhauer dan Johanna Schopenhauer. Kedua orang tuannya adalah keturunan orang kaya Jerman dan keluarga bangsawan. Keluarga Schopenhauer pindah ke Humburg ketika Kerajaan Prussia dikuasai Polish-Lithuanian Commonwealth kota Danzig tahun 1793. Tahun 1805, ayah Schopenhauer bunuh diri. Setelah itu, ibu Schopenhauer, Johanna pindah ke Weimar, yang kemudian menjadi pusat literatur Jerman. Kepergiannya ke sana untuk melanjutkan karirnya sebagai penulis. Setahun kemudian, Schopenhauer meninggalkan bisnis keluarganya yang ada di Humburg. Dia pergi ke Weimar dan tinggal dengan ibunya.
Schopenhauer pun kuliah dan menjadi mahasiswa di Universitas Göttingen pada tahun 1809. Pada masa perkuliahannya, dia belajar tentang metafisika dan psikologi di bawah bimbingan Gottlob Ernst Schulze, penulis buku Aenesidemus, yang mengajurkannya agar berkonsentrasi pada Plato dan Immanuel Kant. Pada tahun 1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dari Johann Gottlieb Fichte, seorang filsuf post-Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich Schleiermacher.








SELAMA DI BERLIN

Pada tahun 1814, Schopenhauer memulai pekerjaannya sebagai penulis dengan judul bukunya The World as Will and Representation (Die Welt als Wille und Vorstellung), Dunia sebagai Kehendak dan Gagasan. Dia menyelesaikannya pada tahun 1818 dan menerbitkannya setahun kemudian. Pada tahun 1820 Schopenhauer menjadi dosen di Universitas Berlin. Dia menjadwalkan untuk memberikan kuliah yang sama dengan pemikiran filsuf terkenal G. W. F. Hegel. Schopenhauer menyebutnya sebagai clumsy charlata. Namun, hanya lima orang yang berminat mengikuti kuliahnya dan dia pun di keluarkan dari akademi tersebut.
Ketika berada di Berlin, Schopenhauer pernah menjadi tersangka atas tuduhan dari seorang wanita bernama Caroline Marquet. Wanita tersebut menuduh Schopenhauer telah mendorongnya. Di dalam pengadilan Schopenhauer bersaksi bahwa wanita itu telah mengganggunya dengan suaranya yang keras di depan pintu Schopenhauer. Caroline Marquet pun menuduh Schopenhauer telah memukulnya setelah wanita itu menolak untuk pergi dari pintunya. Marquet pun menang di dalam pengadilan tersebut.Schopenhauer pun dituntut membayar wanita itu selama dua puluh tahun ke depan. Ketika perempuan itu meninggal dunia, Schopenhauer menulis sertifikat kematiannya dengan Obit anusabit onus ("The old woman dies, the burden flies"). Hal inilah mungkin yang membuat dia sangat membenci wanita.
Pada tahun 1812, dia jatuh cinta kepada seorang gadis berusia Sembilan belas tahun. Gadis itu seorang penyanyi opera dan bernama Caroline Richter. Mereka pun sempat berhubungan dengannya selama beberapa tahun. Namun, dia membatalkan rencana pernikahannya.
Setelah kematian ayahnya, Schopenhauer meneruskan bisnis ayahnya sebagai pedagang. Usaha itu dijalankannya selama dua tahun. Sedangkan ibunya pergi ke Weimar. Schopenhauer pun belajar di Gota Gym. Setelah itu, dia meninggalkannya karena muak dengan cercaan gurunya. Dia pun pergi ke tempat menemui ibunya. Ibunya pda waktu itu telah membuka sebuah salon kecil. Namun, dia tidak cocok dengan pekerjaan ibunya itu dan dia pun muak dengan ibunya yang dianggap melupakan kenangan bersama ayahnya. Schopenhauer pun kemudian berkuliah di sebuah universitas. Di sana dia menulis buku pertamanya, On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason.









Schopenhauer ketika masih muda
Pada tahun 1813, wabah kolera menyerang Berlin dan Schopenhauer tinggal di kota itu. Schopenhauer pun menetap di Frankfrut tahun 1833. Pada saat itu, dia telah berusia dua puluh tujuh tahun. dia tinggal sendirian di Frankfrut, kecuali dengan binatang kesangannya Atman dan Butz. Karyanya berupa pemikiran yang paling menonjol di sepanjang hidupnya adalah Senilia. Judul ini diterbitkan sebagai penghargaan kepadanya. Schopenhauer mempunyai sebuah undang-undang yang kuat. Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Buddha dan filsuf Imanuel Kant. Kekagumannya kepada keduanya itu ama besar. Hal ini terlihat dari ruang kerjanya dipasang dengan kedua patung tokoh tersebut.
Pada tahun 1833, Dia hidup sebagai bujang kaya berkat warisan orangtuanya. Schopenhauer hidup dengan ketakutan kerena dia merasa terancam. Oleh sebab itu, dia sering tidur dengan pistol di sampingnya. Ia banyak menerbitkan tulisan, namun tidak laku dijual. Dia sendirilah yang membeli buku karya tulisannya untuk disimpan. Beberapa tahun menjelang akhir hidupnya, barulah ia terkenal. Buku yang disimpannya itupun diedarkannya.Schopenhauer hidup sendiri. rencana pernikahannya selalu berantakan. Dia menganggap hidup dengan banyak orang memuakkan dan membuang waktu baginya. Ia menhina dan mengejek Kaum wanita sebagai “para karikatur”.


AKHIR HIDUPNYA
Pada tahun 1860, keadaannya mulai memburuk. Dia pun meninggal pada 21 September 1860 karena gagal jantung ketika duduk di bangku sekitar rumahnya. Dia meninggal pada usia yang ketujuh puluh dua tahun.




PEMIKIRAN FILOSOFIS
Filsafat Keinginan
Schopenhauer memberikan fokus kepada investigasinya terhadap motivasi seseorang. Sebelumnya, filsuf terkemuka Hegel telah mempopulerkan konsep Zeitgeist, ide bahwa masyarakat terdiri atas kesadaran akan kolektifitas yang digerakkan di dalam sebuah arah yang jelas. Schopenhauer memfokuskan diri untuk membaca tulisan-tulisan dua filsuf terkemuka pada masa kuliahnya, yaitu Hegel dan Kant. Schopenhauer sendiri mengkritik optimisme logika yang dijelaskan oleh kedua filsuf terkemuka tersebut dan kepercayaan mereka bahwa manusia hanya didorong oleh keinginan dasar sendiri, atau Wille zum Leben (keinginan untuk hidup) yang diarahkan kepada seluruh manusia.
Schopenhauer sendiri berpendapat bahwa keinginan manusia adalah sia-sia, tidak logika, tanpa pengarahan dan dengan keberadaan, juga dengan seluruh tindakan manusia di dunia. Schopenhauer berpendapat bahwa keinginan adalah sebuah keberadaan metafisikal yang mengontrol tindak hanya tindakan-tindakan individual, agent, tetapi khususnya seluruh fenomena yang bisa diamati. Keinginan yang dimaksud oleh Schopenhauer ini sama dengan yang disebut dengan Kant dengan istilah sesuatu yang ada di dalamnya sendiri.
Pandangan filosofis Schopenhauer melihat bahwa hidup adalah penderitaan. Schopenhauer menolak kehendak. Apalagi dengan kehendak untuk membantu orang menderita. Ajaran Schopenhauer menolak kehendak untuk hidup dan segala manifestasinya, namun ia sediri takut dengan kematian. I'AM STAYING HERE
Keputusan dan Hukuman
Schopenhauer menjelaskan seseorang yang hendak mengambil keputusan. Menurut dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan berbagai macam akibat. Oleh sebab itu, keputusan yang diambil memiliki alasan atau dasar. Keputusan-keputusan ini menjadi tidak bebas lagi bagi si pemilihnya. Pemilih itu harus diperhadapkan kepada beberapa akibat dalam sebuah keputusan. Segala tindakan yang dilakukan seseorang merupakan kebutuhan dan tanggung jawabnya. Segala kebutuhan dan tanggung jawab itu pun sudah dibawa sejak lahir dan bersifat kekal. Schopenhauer juga menegaskan jika tidak ada keinginan bebas, haruskah kejahatan dihukum?








CATATAN
Filsafat Schopenhauer ini termasuk ke dalam Idealisme Jerman. Pendapat ini dibuktikan melalui perbandingan antara filosofis Schopenhauer dengan pandangan Idealisme Jerman. Keduanya mengajarkan bahwa realitas bersifat subjektif, artinya keseluruhan kenyataan merupakan konstruksi kesadaran Subjek. Dunia ini juga dipandang sebagai ide. Pandangan Schopenhauer ini pun dijadikan wakil dari Idealisme Jerman. Sekalipun memang ada hal-hal yang bersifat lebih khusus dan fundamental yang membedakan pemikiran Schopenhauer dengan Idealisme Jerman. Bagi Schopenhauer, dasar dunia ini transcendental dan bersifat irasional, yaitu kehendak yang buta. Kehendak ini buta, sebab, sebab desakannya untuk terus-menerus dipuaskan tidak bisa dikendalikan dan tidak akan pernah terpenuhi. Namun, justru keinginan yang tak sampai berarti penderitaan. Selanjutnya, menurut dia bahwa kehendak transendental itu mewujudkan diri dalam miliaran eksistensi kehidupan, maka hidup itu sendiri merupakan penderitaan. Jalan keluar yang diusulkan Schopenhauer ini pun cukup logis. Kalau hidup ini adalah penderitaaan, maka pembebasan dari penderitaan tersebut tentunya akan tercapai melalui penolakan kehendak untuk hidup. Konkretnya adalah lewat kematian raga dan bela rasa.
Cara pemikiran Schopenhauer ini menarik. Namun, tetap saja memiliki kesalahan. Masalah dalam filsafatnya berkaitan dengan pandangannya atas pengetahuan tentang prinsip individuasi. Menurut Schopenhauer, berkat pengetahuan inilah manusia sadar bahwa dirinya adalah sama dengan semua makhluk hidup lain (dasar dari sikap bela rasa) sehingga dia tidak perlu memutlakkan diri dan keinginannya (dasar sikap mati raga atau penyangkalan diri). Tanpa pengetahuan ini, manusia tidak akan mengalamipencerahan dan tetap berada dalam kegelapan.
Anggapan Schopenhauer ini menekankan dua hal, yaitu bahwa kesadaran manusia terbukti lebih kuat dibandingkan nafsu dan keinginannya, dan bahwa karena itu ia juga mampu memperhatikan keadaan kepentingan orang lain, di dalam hal ini berarti bahwa manusia bukanlah makhluk egois sebagai mana yang dipikirkan oleh Schopenhauer. Namun, jika kesadaraan bisa menguatkan manusia menyangkal diri dan berbela rasa, bukankah demikian kehendak untuk hidup itu sendiri bukan merupakan dasar dari segalanya?
Pengaruh
Kendatipun demikian, pengaruh Scopenhauer dalam perkembangan pemikiran selanjutnya cukup besar.  Ia membuka jalan bagi orang suatu psikologi tentang alam bawah sadar ala Freud. Pemikiran Schopenhauer tentang kehendak untuk hidup di kemudian hari mempengaruhi filsafat Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa (Der Wille zur Macht)'. Setengah abad kemudian, ajaran Schopenhauer ini memberikan inspirasi pada filsafat hidup (Vitalisme), misalnya pada pemikiran Henry Bergson (1859-1941)Selain itu, ia menghidupkan perhatian dan minat orang Barat pada studi kesustraan dan agama-agama Timur, terkhusus Buddhisme.